Rabu, 4 Februari 2026
Diakses: 690 kali
“Setiap manusia, itu sebetulnya sedang berjalan menuju Allah. Hanya saja, ada yang menyadarinya, sehingga ia bersiap-siap untuk menghadap Allah dengan memperbaiki amal dan menjauhi dosa,” dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini dalam Kuliah Tasawuf ke VII di Musala Riyadus Sholihin, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo.
Namun, tak semua orang memiliki kesadaran tersebut bahwa ia sedang berjalan menuju Allah. Orang seperti ini, kata beliau, dalam menjalani kehidupan larut dalam kesibukan mengejar harta, bersenang-senang, dan hidup sesuka hati.
Sadar atau tidak, siap atau belum, setiap manusia sedang menapaki jalan pulang menuju Allah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang artinya “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya-lah kita akan Kembali,” terang Kiai Zuhri.
“Di dunia ini kita menjalani proses kehidupan, dari bayi, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, hingga tua, lalu berakhir dengan kematian,” jelasnya.
Ketahuilah, bahwa kematian pasti akan menimpa kita. Kuburan akan menjadi tempat peristirahatan, hari kiamat akan membangkitkan kita dan Allah akan menetapkan putusan hukum di antara kita. Dan Dia adalah sebaik-baik hakim.
Kematian tersebut, merupakan akhir dari kehidupan manusia di dunia, yang disebut sebagai al-qiyamah as-sughra (kiamat kecil). “Tapi ini terjadi pada perorangan, disebut kiamat kecil,” dawuh Kiai Zuhri.
Ruh orang yang meninggal dunia, kata beliau, tetap hidup dan berada di alam barzakh. “Di sana, ruh bisa melihat kehidupan dunia sekaligus mulai menyaksikan gambaran alam akhirat. Keadaan ini berada di antara dunia dan akhirat, dan bisa berlangsung selama ribuan tahun sejak zaman Nabi Adam hingga kini,” terangnya.
Kemudian akan datang kiamat besar (al-qiyamah al-kubra), yang ditandai dengan hancurnya alam semesta serta matinya seluruh makhluk hidup. Peristiwa ini diawali dengan tiupan pertama sangkakala oleh Malaikat Israfil. Pada tiupan kedua, seluruh makhluk yang telah mati akan dibangkitkan kembali untuk menghadap Allah.
“Memang sulit bagi kita untuk membayangkannya sekarang. Tapi dalam Al-Qur’an dan hadis dijelaskan bahwa pada hari kebangkitan nanti, seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Di sanalah manusia akan diadili dan diproses hukum,” dawuh beliau.
Lebih lanjut, Kiai Zuhri menyampaikan bahwa meskipun Allah sudah mengetahui siapa yang berdosa dan siapa yang tidak. Namun, Allah tidak bertindak semena-mena hanya karena Allah berkuasa, langsung memasukkan seseorang ke neraka dan surga tanpa melalui proses.
“Di sinilah letak kebijakan Allah, semua makhluk akan diadili dengan seadil-adilnya,” tambah beliau.
Selain itu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa setiap amal perbuatan manusia selama hidup di dunia pasti dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Saat hari itu tibah, mulut akan dikunci dan anggota tubuh lain akan bersaksi.
“Mulut mereka akan dikunci, dan yang berbicara adalah tangan serta kaki mereka. Mengapa mulut dikunci? Kalau dibiarkan berbicara, mulut pasti akan berbohong. Maka yang bersaksi nanti adalah tangan dan kaki,” jelas Kiai Zuhri.
Mengutip Surah Yasin ayat 78, Kiai Zuhri mengatakan bahwa orang-orang kafir yang disebutkan dalam ayat tersebut berkata: قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ yang artinya: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”
Allah menjawab melalui Nabi Muhammad: قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ yang artinya “Katakanlah (Muhammad), yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali.”
Namun, bagi kita yang tidak mempersiapkan diri untuk kembali kepada-Nya, kepulangan itu akan terasa penuh penderitaan. Sebaliknya, kata Kiai Zuhri, jika kita telah mempersiapkan diri dengan baik, maka perjalanan pulang menuju Allah akan dipenuhi dengan kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan, dari alam barzakh hingga ke alam akhirat.
Persiapan tersebut, lanjut beliau, hanya bisa ditempuh melalui jalan ibadah. Sebab, ibadah merupakan jalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam tasawuf dikenal dengan istilah suluk (perjalanan menuju Allah).
Tahap awal dari suluk dimulai dengan munculnya kemauan dalam hati untuk beribadah kepada Allah, yang dikenal dengan istilah baits (motivasi). Kemauan ini merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah. “Tetapi kita harus berusaha mencarinya,” dawuh beliau.
Kiai Zuhri mencontohkan: Kita semua sadar bahwa rezeki berasal dari Allah, tapi kita tetap bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencarinya. Namun, ketika berbicara soal hidayah yang bahkan jauh lebih penting karena menjadi bekal keselamatan kita di akhirat, sering kali sikap kita berbeda dan cenderung pasrah tanpa melakukan usaha. Padahal, sebagaimana rezeki memerlukan ikhtiar, begitu pun hidayah perlu dicari.
Menurut Kiai Zuhri, sikap seperti itu, tidak adil. Bukan karena Allah tidak mampu memberikan hidayah tanpa usaha kita. Tentu saja, Allah Maha Kuasa atas segalanya. Namun Allah memerintahkan kita untuk memohon hidayah itu. Bahkan, setiap hari dalam shalat, sebanyak 17 kali kita membaca Ihdinash-shiraathal mustaqiim (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).
“Kita harus menanti di pintu-pintu hidayah, berharap dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar Allah membuka jalan itu untuk kita,” jelas beliau.
Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang mendorong kita untuk beribadah kepada-Nya, meskipun bentuknya beragam. Ada yang berupa perintah langsung, seperti salat, puasa, dan zakat. Namun, ada pula yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan yang mengajak kita untuk bertafakur dan menggunakan akal. Selain itu,kisah-kisah umat terdahulu serta perjalanan hidup para Nabi dan Rasul juga diceritakan dalam Al-Quran agar menjadi pelajaran dan cermin bagi kita.
Semuanya bertujuan untuk memotivasi manusia agar menempuh jalan ibadah dengan penuh kesadaran dan pemahaman. “Dengan adanya motivasi dorongan untuk melakukan takarrub kepada Allah melalui suluk, kita akan terus melangkah, tidak hanya diam,” dawuh beliau.
Kesadaran untuk mendekat kepada Allah merupakan anugerah yang tak ternilai. Sebab, kata beliau, tak semua orang diberi kemauan dan dorongan untuk solat, berzikir, atau menempuh jalan ibadah. Maka, ketika Allah menganugerahkan hidayah kepada seseorang, itu adalah nikmat yang besar.
“Saking besarnya nikmat hidayah itu, andaikan kita bersyukur pun, rasanya tetap belum cukup syukur kita,” terang Kiai Zuhri.
Namun, kita sering kali keliru dalam menilai nikmat tersebut. Kita seolah menganggap bahwa perintah agama untuk terus-menerus beribadah adalah sesuatu yang biasa saja. Jika demikian halnya, kata Kiai Zuhri, “Itu pertanda bahwa selera kita sedang sakit.”
Menurut Kiai Zuhri, kita ini manusia biasa yang membutuhkan makan, minum, tidur, bahkan menikah. Karena itu, Islam tidak menuntut kita untuk terus-menerus salat dan berzikir tanpa henti hingga melupakan kebutuhan jasmani.
Namun, tambah beliau, yang perlu kita usahakan adalah bagaimana menjadikan seluruh aktivitas seperti makan, minum, tidur, hingga menikah itu bernilai ibadah.
Lebih lanjur, Kiai Zuhri menyampaikan tentang, tafakur atau perenungan adalah salah satu jalan yang dapat menumbuhkan ketakwaan manusia kepada Allah. Karen itu, manusia diajak untuk berpikir dan merenungi ciptaan Allah di alam semesta, langit yang terbentang luas, bumi yang kokoh, dan segala keteraturan yang menunjukkan betapa agung kekuasaanNya.
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 190-191: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.”
Karena itu, kata Kiai Zuhri, manusia diperintahkan untuk bertafakur tentang ciptaan Allah, bukan tentang zat Allah, karena akal manusia tidak mampu memahami hakikatNya. Dalam hadis pun ditegaskan: “Tafakkaru fi khalqillah, wa la tafakkaru fidzatillah.” “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang zat Allah.”
Dengan demikian, Kiai Zuhri menegaskan, kita harus terus berusaha menumbuhkan dorongan ibadah melalui jalan-jalan yang telah diajarkan dengan berzikir, bertafakur, berkumpul bersama orang-orang saleh dan lain sebagainya. Semua itu adalah upaya nyata untuk menumbuhkan dan menjaga semangat beribadah.(baim)
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
pomas@unuja.ac.id