KH. Moh. Zuhri Zaini: Tanpa Penyesalan, Tobat tak Sempurna

Bagikan:

Selasa, 3 Februari 2026

Diakses: 458 kali

Responsive image

Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa (LP.Pomas) Universitas Nurul Jadid (Unuja), gelar kegiatan rutin Ngaji Tawasuf ke-VIII di Musala Riyadus Sholihin, Kamis (09/10/2025). Kegiatan tersebut diikuti para Mahasiswa Santri yang tampak khusyuk menyimak penjelasan KH. Moh. Zuhri Zaini.

Dalam pengajiannya, Kiai Zuhri menyampaikan bahwa perjalanan seorang hamba menuju Allah harus diawali dengan ilmu, terutama ilmu syariat. Setelah memahami ilmu, langkah berikutnya adalah tobat, karena manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa.

“Tanpa bertobat, ibadah kita dianggap tidak serius,” dawuh Kiai Zuhri.

Namun, kata beliau, tobat yang benar tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus disertai dengan penyesalan. Penyesalan, kata Kiai Zuhri, merupakan perasaan yang tidak bisa dihadirkan dengan kesengajaan, melainkan muncul dari hati dan kesadaran penuh atas kesalahan yang telah dilakukan.

“Penyesalan itu perasaan, tidak bisa kita undang, tidak bisa datang hanya karena kesengajan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menegaskan bahwa seseorang yang tidak menyadari kesalahannya tidak akan pernah menyesal. Penyesalan baru muncul ketika seseorang merasakan akibat dari perbuatannya. Namun, ada juga orang yang menyesal sebelum akibat itu terjadi karena mengetahui bahwa akibatnya akan buruk bagi dirinya.

“Belum sampai pada akibatnya, kita sudah menyesal,” terang beliau.

Untuk menumbuhkan penyesalan itu, Kiai Zuhri menganjurkan agar setiap muslim melakukan tafakur (perenungan) terhadap perbuatan yang telah dilakukan. Sebab melalui tafakur, seseorang akan menyadari setiap kesalahan, sekecil apa pun akan berakibat mencelakakan dirinya sendiri.

“Kita, andaikan terlanjur melakukan itu, maka kita akan menyesal,” dawuhnya.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa ada dosa besar yang secara kasatmata mudah dikenali sebagai perbuatan tercela, seperti pembunuhan. Namun, ada pula dosa besar lain yang tidak selalu dipandang demikian. Zina, misalnya, kerap dianggap perkara sepele, bahkan oleh sebagian orang dianggap lumrah bahkan dibenarkan atas nama kebebasan dan hak asasi manusia.

“Meskipun tidak tampak mengerikan seperti pembunuhan, zina tetap pelanggaran terhadap larangan Allah. Sebab semua aturan Allah itu membawa kebaikan. Hanya saja, kadang-kadang kita menyadari, kadang tidak,” ujarnya.

Karena itu, kata Kiai Zuhri, penyesalan yang benar adalah menyesali perbuatannya, bukan menyesali hukuman yang diterima. Sebab, ada orang yang baru menyesal setelah mendapat hukuman, bukan karena sadar akan kesalahannya.

“Ketika dihukum baru dia menyesal. Jadi bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesal karena dihukum,” jelasnya.

Walaupun demikian, Kiai Zuhri mengingatkan agar senantiasa kita bertafakur, sebab tafakur sebagai kunci utama untuk menumbuhkan penyesalan yang menjadi syarat sahnya tobat. “Untuk syarat tobat, harus menyesali dosa-dosa yang kita lakukan,” tegas beliau.(baim)

pengajian Terkait

KH. Moh. Zuhri Zaini: Tanpa Penyesalan, Tobat tak Sempurna

Rabu, 4 Februari 2026

Menapak Jalan Pulang

Rabu, 4 Februari 2026

Syukur ditengah badai kehidupan

Rabu, 4 Februari 2026

Beribadah dan Tantangan dalam Perjalanan Menuju Allah

Rabu, 4 Februari 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

pomas@unuja.ac.id
© 2023 UNIVERSITAS NURUL JADID