KH. Moh. Zuhri Zaini: Syukurilah Takdirmu

Bagikan:

Senin, 29 Juni 2026

Diakses: 57 kali

Responsive image

LP.Pomas.unuja.ac.id- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini menyampaikan bahwa ketika melihat orang lain bahagia dan sukses, terkadang muncul rasa hasad dalam hati, “Mengapa bukan saya, kok dia” Perasaan seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari keadaan tersebut, kita seharusnya belajar memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Sebab, segala nikmat dan kelebihan yang dimiliki seseorang merupakan pemberian Allah. Ada yang diberikan kelebihan menjadi tokoh masyarakat, ada yang menjalani hidup biasa-biasa saja, ada yang dikenal banyak orang, dan ada pula yang tidak dikenal luas.

“Semua itu adalah ujian. Orang yang diberi kelebihan terkadang menjadi sombong, sedangkan yang tidak diberi kelebihan bisa merasa dengki. Keduanya sama-sama berbahaya,” terang Kiai Zuhri dalam kuliah tasawuf di Musala Riyadus Sholihin, Kamis (09/04/2026).

Lebih lanjut, kata beliau Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amal, perilaku, dan sikapnya. Ketika diberi kelebihan, apakah ia mau bersyukur, dan ketika diberi kekurangan, apakah ia mau bersabar serta menerima keadaan.

Karena itu, jangan sekali-kali kita merasa iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain maupun kekurangan yang ada pada diri kita. Menurut Kiai Zuhri, rasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya sama dengan mempertanyakan ketetapan-Nya.

“Tentu, bagi orang yang beriman kepada Allah tahu bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kemauan Allah,” terang Kiai Zuhri.

Lebih jauh, kata beliau, kehidupan di dunia ini pada hakikatnya adalah ujian. Ujian tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan, tetapi juga melalui kesenangan. Orang yang diberi kenikmatan oleh Allah sejatinya sedang diuji, apakah ia mau bersyukur atau tidak. Misalnya, kaya maupun miskin, keduanya sama-sama merupakan bentuk ujian.

Kiai Zuhri mencontohkan, orang kaya diuji dengan hartanya, apakah ia bersyukur, membelanjakan hartanya di jalan yang benar, serta tidak sombong dan tidak ujub. Maka, orang kaya yang mampu bersyukur dan menggunakan hartanya dengan baik adalah orang yang mulia. 

Namun sebaliknya, orang miskin juga belum tentu buruk. Semuanya bergantung pada sikap masing-masing. Jika seseorang hidup dalam kekurangan tetapi tetap menerima keadaan dan bersabar, maka kemiskinan itu justru dapat menjadi jalan untuk menambah pahala.

Dengan demikian, Kiai Zuhri menyampaikan kehidupan Rasulullah SAW yang memilih hidup sederhana meskipun beliau memiliki kesempatan untuk hidup berkecukupan. Harta yang diterima Nabi tidak digunakan untuk bersenang-senang atau ditumpuk, melainkan dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

Namun, tambah Kiai Zuhri, jika ingin meneladani Nabi, beliau tidak pernah menyimpan harta dalam jumlah banyak, melainkan secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Rasulullah SAW bahkan sering merasakan lapar dan hidup dalam keadaan sederhana.

Suatu ketika, saat beliau kembali ke rumah, beliau bertanya apakah ada makanan. Jika dijawab tidak ada, maka beliau bersabda bahwa beliau akan berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan hidup beliau bukanlah mencari kesenangan duniawi, melainkan mengutamakan akhirat dan keridaan Allah.

“Dengki muncul ketika seseorang merasa berat melihat orang lain memperoleh kelebihan, lalu bertanya mengapa dirinya tidak mendapatkan hal yang sama. Sikap seperti ini termasuk penyakit hati yang bisa mendatangkan dosa,” tegas Kiai Zuhri.

pengajian Terkait

KH. Moh. Zuhri Zaini: Syukurilah Takdirmu

Senin, 29 Juni 2026

Menapak Jalan Pulang

Senin, 29 Juni 2026

Beribadah dan Tantangan dalam Perjalanan Menuju Allah

Senin, 29 Juni 2026

Gus Muhammad Al-Fayyadl: Menjelaskan Wasiat Pertama dalam Kitab Minahus Saniyyah

Senin, 29 Juni 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

pomas@unuja.ac.id
© 2023 UNIVERSITAS NURUL JADID