Minggu, 28 Juni 2026
Diakses: 28 kali
pomas.unuja.ac.id, Probolinggo- “Hidup di dunia ini hanya sekali, dan hidup dunia ini butuh biaya untuk makan, minum, dan sebagainya. Karen itu, jangan sampai hidup kita ini diisi dengan sesuatu yang tidak ada gunanya untuk masa depan kita. Apalagi diisi dengan suatu yang merugikan dan mencelakakan kita di kemudian hari. Sekalipun mungkin sekarang belum terasa.” terang KH. Moh. Zuhari Zaini.
Hal tersebut disampaikan dalam Kuliah Tasawuf ke-13 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid (LP.Pomas Unuja) di Musala Riyadus Sholihin, Kamis (04/06/2026).
Mengutip penulis kitab Adab as-Suluk al-Murid, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa setiap orang hendaknya berupaya menjaga anggota tubuhnya, seperti pendengaran, penglihatan, dan anggota badan lainnya, dari perbuatan dosa maupun hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia.
Menurutnya, menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia bukan berarti seseorang harus terus-menerus serius, berzikir, atau belajar tanpa jeda. Sebab, apabila dilakukan secara berlebihan, seseorang dapat mengalami kelelahan dan stres.
“Apakah kita harus terus serius, berzikir, dan belajar tanpa henti? Jawabannya tidak. Sebab, jika dilakukan terus-menerus seseorang bisa mengalami stres dan kelelahan. Kalau sudah begitu, maka sebaiknya break atau jeda sejenak, misalnya dengan bergurau atau mengobrol,” katanya.
Lebih lanjut, kata Kiai Zuhri, mengobrol dan bercanda tidak selalu dapat dikategorikan sebagai perbuatan sia-sia. Dalam kondisi tertentu, keduanya justru dapat menjadi sarana untuk melepas penat dan memulihkan semangat agar seseorang dapat kembali menjalankan aktivitas dengan baik.
“Kalau sudah mulai merasa stres, seseorang perlu beristirahat terlebih dahulu. Karena itu, tidak ada salahnya mengambil jeda, mengobrol sebentar, atau bahkan tidur jika memang diperlukan,” terangnya.
Bahkan dalam menjalankan ibadah, Kiai Zuhri menegaskan bahwa seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk salat ketika kondisinya sudah sangat lelah atau mengantuk. Menurut beliau, apabila waktu salat masih cukup panjang, tidak mengapa beristirahat sebentar agar dapat melaksanakan salat dengan lebih baik.
Namun, jika waktu salat sudah mendekati akhir dan dikhawatirkan tidak sempat menunaikannya, maka seseorang tetap perlu berusaha melaksanakan salat sebelum waktunya habis.
“Bergurau itu bisa berguna kalau memang dibutuhkan. Kalau tidak dibutuhkan, ya jangan,” tegas Kiai Zuhri.
Penulis: Ibrahim La Haris (Mahasiswa Pomas Unuja)
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
pomas@unuja.ac.id