Gus Muhammad Al-Fayyadl: Menjelaskan Wasiat Pertama dalam Kitab Minahus Saniyyah

Bagikan:

Senin, 29 Juni 2026

Diakses: 24 kali

Responsive image

pomas.unuja.ac.id, Probolinggo- Taubat tidak dipahami sebagai tindakan sesaat, melainkan sebagai sikap batin yang harus terus dijaga. Karena itu, wasiat pertama dalam kitab Minahus Saniyyah karya Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menempatkan istiqamah dalam taubat sebagai fondasi utama dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

اول الوصية : عَلَيْكَ أَيُّهَا الْأَخُ بِالْإِسْتِقَامَةِ فِى التَّوْبَةِ

“Wahai saudaraku, hendaklah engkau senantiasa istiqamah dalam bertaubat”

“Wasiat ini sangat berguna bagi kita yang sedang belajar memperbaiki diri,” terang Gus Muhammad Al-Fayyadl dalam Pengajian Akhlak dan Tasawuf ke-II di Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Lebih lanjut, Gus Fayyadl menjelaskan bahwa secara bahasa taubat berarti kembali secara umum, yakni kembali kepada keadaan asal manusia berupa fitrah, keadaan asli dan suci. Adapun menurut syariat, taubat adalah kembali dari perbuatan yang tercela menuju kepada perbuatan yang terpuji.

“Itulah yang disebut tobat” jelas Gus Fayyadl.

Namun, kata Gus Fayyadl, perbuatan terpuji memiliki cakupan yang sangat luas. Tidak terbatas pada satu jenis perbuatan, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara lahir maupun batin, mulai dari ucapan, perbuatan, hingga keadaan batin. Demikian pula sebaliknya, perbuatan tercela juga mencakup keseluruhan aspek tersebut.

Meski cakupannya begitu luas, lanjut Gus Fayyadl, penilaian baik dan buruk suatu perbuatan tidak bisa diukur dari selera, kebiasaan, ataupun penilaian subjektif manusia. Melainkan diukur berdasarkan standar syariat dalam menentukan apakah suatu perbuatan tergolong terpuji atau justru tercela.

Beliau mencontohkan salah satu perbuatan tercela yang kerap dianggap sepele, yakni mengucapkan kata “ah…”, “uff…”, atau “cih…” kepada kedua orang tua. Meski tampak biasa, ungkapan tersebut menunjukkan sikap atau perbuatan meremehkan dan menyepelekan orang tua.

Al-Qur’an secara tegas melarang seorang anak berkata kasar kepada orang tua.

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).

Sebaliknya, beliau menambahkan, seseorang harus menunjukkan perbuatan terpuji ketika berbicara atau menjawab dengan perkataan yang lembut dan sopan, seperti “iya, Pak/Bu”, atau ungkapan santun lainnya.

“Meningalkan perkatan yang tercela dan diganti dengan perkataan terpuji yang diridai Allah adalah salah satu bagian dari tobat,” jelasnya.

Pemahaman tersebut kerap luput disadari. Sebab, selama ini kita sering mempersempit makna taubat sebatas membaca istigfar. Padahal, kata Gus Fayyadl, taubat tidak hanya identik dengan istigfar, istigfar hanyalah ungkapan lisan dari taubat, cara seseorang menyatakan penyesalannya. Jika menelisik lebih jauh, semua aspek didalam kehidupan manusia dapat bernilai tobat.

“Taubat sebenarnya level pertama dalam kita melangkah, harus istiqamah dalam taubat. Artinya terus-menerus beralih dari keadaan yang tercela kepada perilaku yang terpuji,” pungkas Gus Fayyadl.

Penulis: Ibrahim La Haris (Mahasiswa Pomas Unuja)

pengajian Terkait

KH. Moh. Zuhri Zaini: Jangan Sia-siakan Hidup

Senin, 29 Juni 2026

Gus Muhammad Al-Fayyadl: Menjelaskan Wasiat Pertama dalam Kitab Minahus Saniyyah

Senin, 29 Juni 2026

Menapak Jalan Pulang

Senin, 29 Juni 2026

Beribadah dan Tantangan dalam Perjalanan Menuju Allah

Senin, 29 Juni 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

pomas@unuja.ac.id
© 2023 UNIVERSITAS NURUL JADID