Kamis, 1 Januari 2026
Diakses: 111 kali
Menutup akhir tahun 2025, Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa (Pomas) Universitas Nurul Jadid menggelar refleksi akhir tahun bertajuk “Menata Niat, Merajut Khidmah: Refleksi Santri Mahasiswa dalam Bingkai Trilogi Santri” di Musala Riyadus Sholihin, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Selasa (31/12/2025).
Kegiatan refleksi ini menghadirkan Ahmad Shahida sebagai pemateri dan diikuti oleh mahasiswa aktif Universitas Nurul Jadid. Acara tersebut, menjadi ruang kontemplasi bersama untuk melihat ulang perjalanan setahun ke belakang, sekaligus menata arah hidup di tahun yang akan datang 2026.
Ahmad Shahida, menyampaikan bahwa santri mahasiswa sebagai generasi masa depan di tengah situasi bangsa yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja.
“Saya melihat negeri ini tidak baik-baik saja, bahkan cenderung gelap. Tapi saya yakin dari refleksi ini, mudah-mudahan keadaan bisa menjadi lebih baik, dan kalianlah yang akan meneranginya,” ujarnya.
Di sisi lain, Ahmad Shahida menegaskan bahwa refleksi akhir tahun bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk menata kembali niat. Menurutnya, masa depan seseorang sangat ditentukan oleh kesungguhan dalam menjalani hari ini.
“Refleksi malam ini bukan panggung saya, tapi panggung kalian. Hidup saya sudah selesai, ini hanya pengulangan masa lalu. Tapi bagi kalian, hari ini adalah masa depan. Kalau hari ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh, maka masa depan akan hilang,” jelasnya.
Ahmad Shahida menilai niat sebagai fondasi utama setiap perubahan. Ia bahkan mengaitkan pandangan tersebut dengan pemikiran filsuf Immanuel Kant, yang menyebut bahwa perbuatan baik selalu bermula dari niat baik. Karena itu, Shahida berharap tema “menata niat, merajut khidmah” tidak berhenti sebatas judul kegiatan, melainkan benar-benar menjadi titik awal perubahan hidup santri mahasiswa.
Selain itu, dalam refleksinya, Ahmad Shahida juga menyinggung pentingnya kehidupan sehari-hari yang bermakna. Ia mengajak peserta untuk tidak terjebak pada pencitraan dan hiruk-pikuk panggung semu, melainkan memberi makna pada rutinitas sederhana seperti bangun pagi dan mengaji.
Dosen Program Pascasarjana Universitas Nurul Jadid itu mencontohkan saat mengikuti pengajian Syarah Al-Hikam bersama KH. Moh. Zuhri Zaini di pagi hari. Menurutnya, pengalaman itu telah memberikannya pegangan hidup yang tidak selalu mampu dijawab oleh filsafat semata.
“Filsafat membantu kita berpikir tentang dunia, tapi tasawuf membuat dunia itu dihayati dengan hati. Kalau keduanya berjalan seiring, insyaallah kita menemukan makna hidup,” katanya.
Ahmad Shahida juga mengingatkan santri mahasiswa untuk setia pada panggilan kepesantrenan, terutama tradisi mengaji. Ia memahami padatnya aktivitas akademik, tetapi mengajak peserta untuk mengatur ulang waktu agar tidak tercerabut dari ruh pesantren.
Selain niat baik, Ahmad Shahida menekankan pentingnya khidmah sebagai laku hidup santri. Menurutnya, khidmah kini menjadi sesuatu yang semakin langka karena banyak hal ditukar dengan kepentingan material dan transaksi.
“Kalau niatnya transaksi, yang didapat hanya kesia-siaan. Karena yang material itu cepat hilang dan tidak abadi,” ujarnya.
Ia mengajak peserta mengisi sebagian besar waktu hidup dengan kegiatan spiritual dan intelektual, bukan sekadar mengejar kesenangan sesaat. Dalam konteks itu, Shahida menilai Trilogi Santri Nurul Jadid sebagai bingkai penting untuk membentuk kepribadian dan ideologi santri mahasiswa.
“Seperti foto yang perlu bingkai agar bisa ditempel di dinding, hidup juga perlu bingkai. Trilogi Santri itu bukan sekadar warisan, tapi harus ditafsirkan ulang agar relevan dengan hari ini,” katanya.
Menutup refleksi, Ahmad Shahida mengajak peserta menetapkan resolusi. Ia mendorong santri mahasiswa untuk menuliskan niat dan komitmen sebagai catatan personal perjalanan hidup. Baginya, refleksi adalah puncak eksistensi manusia menuju ruang untuk belajar dari keberhasilan sekaligus kegagalan.
“Temukanlah kembali makna niat baik, khidmah dan arti perjalanan hidup agar masa depan kalian lebih baik,” pungkasnya.
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
pomas@unuja.ac.id