Kamis, 8 Januari 2026
Diakses: 74 kali
pomas.unuja.ac.id, Probolinggo- Orang yang melakukan amal ibadah disertai riya' sesungguhnya dia telah merusak nilai amal tersebut. Meskipun secara lahiriah tampak baik, seperti salat atau sedekah, amal itu tidak bernilai di sisi Allah.
Hal tersebut disampaikan KH. Moh. Zuhri Zaini dalam Ngaji Tasawuf ke-X di Musala Riyadus Sholihin, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Kamis (08/01/2026).
“Orang yang beramal disertai riya' berarti amalnya itu bukan karena Allah,” terangnya.
Kiai Zuhri mencontohkan, seseorang bisa saja melaksanakan salat bukan karena ingin menjalankan perintah Allah, melainkan karena takut mendapat sanksi dari pengurus atau orang tua. Di sisi lain, ada yang salat demi kepentingan dunia, seperti mengharapkan kelancaran ekonomi atau kemajuan karier.
“Kalau seseorang sudah beramal tidak ikhlas, pasti amal itu tidak akan langgeng dan cenderung musiman, dilakukan ketika ada keinginan,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Kiai Zuhri, ada juga orang yang istiqamah melaksanakan salat dengan harapan rezekinya lancar. Namun, ketika harapan tersebut tidak terwujud dan kondisi ekonominya tetap sulit, justru meninggalkan salat.
“Ini terjadi karena niatnya tidak benar,” terang Kiai Zuhri.
Fenomena serupa, menurut beliau, juga dapat ditemukan dalam kehidupan sosial. Menjelang pemilihan umum, banyak dermawan datang ke desa-desa untuk menyalurkan bantuan. Kiai Zuhri mengingatkan agar tidak perlu berprasangka buruk, karena bisa jadi niat mereka memang untuk berbagi. Namun, sayangnya bantuan semacam ini sering kali tidak terlihat setelah momentum pemilu berlalu.
Mengutip pendapat para ulama, Kiai Zuhri mengatakan, ma kana lillahi dama wa ittaṣala, bahwa sesuatu yang dilakukan karena Allah akan bersifat langgeng dan berkelanjutan.
“Segala bentuk perintah Allah, jika kita laksanakan dengan mengharap kasih sayang dan rida-Nya, itulah keikhlasan dan ibadah yang sesungguhnya,” dawuhnya.
Ibadah itu luas, kata Kiai Zuhri, tidak terbatas pada salat dan puasa, tetapi mencakup pelbagai aspek dalam kehidupana, seperti sosial dan ekonomi. Bahkan perbutan baik kepada keluarga dan tetangga pun bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjalankan perintah Allah. Begitupun, tersenyum dapat bernilai sebagai ibadah.
Dalam kitab Syu‘ab al-Iman dijelaskan, dkhalus-sururi fi qalbil mu’min sadaqah, yaitu menebarkan kegembiraan ke dalam hati seorang mukmin termasuk sedekah.
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
pomas@unuja.ac.id